POPULASI DAN SAMPEL
A. Populasi
1). Pengertian
Kata populasi (population) adalah kata istilah yang digunakan dalam penelitian yang merujuk pada sekumpulan individu dengan karakteristik khas yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian (pengamatan). Frankle and Wallen (2008: 92) mendefinisikan bahwa populasi adalah semua anggota dari grup tertentu yang menjadi perhatian peneliti dan menjadi subjek generalisasi hasil penelitian.
2). Target Populasi versus Accessible Populasi
Dilihat dari batas dan luas jumlahnya, populasi dapat dibedakan menjadi target populasi atau sering disebut ideal population, dan accessible populasi atau disebut juga dengan realistic popolation. Berikut akan diuraikan satu pesatu.
a. Target populasi (ideal population)
Targe populasi adalah jumlah real anggota populasi sebagai subjek generalisasi hasil penelitian. Populasi ini disebut juga ideal population. jumlah anggota yang terdapat dalam populasi ini sangat besar dan bahkan bisa mencapai tak terhitung.
Contoh:
Semua binatang didunia
Semua siswa di Amerika
Semua mahasiswa di Indonesia
Populasi ini jarang digunakan dalam penelitian karna sangat sulit mengumpulkan anggota-anggota yang berjumlah besar dan tersebar luas dari satu daerah ke daerah lainnya. Untuk itu, peneliti biasanya menyempitkan lingkup populasi yang akan diteliti, yang disebut dengan accessible populasi.
b. Accessible populasi (realistic population)
Accessible populasi adalah populasi yang jumlahnya dapat dijangkau untuk dijadikan subjek penelitian. Peneliti mempersempit batas populasi yang akan diteliti dalam zona yang lebih kecil.
Contoh:
Semua binatang melata di kebun binatang Bukit Tinggi.
Semua siswa SMP jurusan IPA kelas 3 di Winchester Messachussets Amerika
Semua mahasiswa hukum semester 1 di Universitas Jambi Indonesia
Dengan menyempitkan batas populasi penelitiannya, peneliti akan dapat dengan mudah melakukan sampling dan melaksanakan penelitian.
B. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi sumber informasi tertentu yang dibutuhkan dalam penelitian (Frankle, 2008 h. 107). Sampel dari suatu populasi haruslah representatif terhadap semua anggota populasi, sehingga hasil penelitian dapat digeneralisasikan terhadap populasi.
Penelitian dengan menggunakan sampel sebagai sumber informasi dilakukan karena pertimbangan biaya, waktu dan tenaga jika jumlah populasinya besar dan sulit digapai peneliti dalam jangka waktu singkat dan biaya yang hemat. Peneliti dapat meneliti sebagian anggota dari populasi yang dianggap representatif terhadap populasi.
C. Teknik Sampling
Sampling adalah istilah yang merujuk pada proses penarikan atau penyeleksian anggota populasi untuk dijadikan sampel penelitian. Secara umum, sampling dapat dibedakan menjadi dua, yaitu random sampling dan nonrandom sampling.
1. Random sampling
Blaxter, dkk (1996: 245) mendefinisikan bahwa random sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana tiap-tiap individu dalam populasi mendapat peluang yang sama untuk terpilih. Dalam penarikan sampel ini, peneliti memilih sampel secara acak tanpa bias. Beberapa teknik penarikan sampel dalam random sampling adalah sampling acak sederhana (simple random sampling), sampling berstrata atau bertingkat (stratified random sampling), sampling kelompok (cluster sampling) dan sampling acak dua tingkat (two stage random sampling) (Frankle dan Wallen, 2008, h. 95).
a) Sampling acak sederhana (simple random sampling)
sampling acak sederhana adalah sebuah proses sampling yang dilakukan sedemikian rupa sehingga setiap satuan sampling yang ada dalam populasi mempunyai peluang yang sama untuk dipilih ke dalam sampel. Ada beberapa cara dalam memilih sampe dengan teknik ini. Gay (1996: 104) menerangkan dua cara dalam teknik acak sederhana ini.
1). Menggunakan slip kertas (slip of paper)
Langkah dengan menggunakan slip kertas ini adalah dengan menuliskan nama dari setiap anggota populasi dalam selembar slip secara terpisah. Kemudian semua slip yang telah diberi nama dari anggota populasi tersebut dimasukkan kedalam satu tempat tampungan (container) seperti topi dan benda lain yang bisa digunakan sebagai container. Kemudian slip slip dalam container itu diacak dengan cara menguncangkan container tersebut. Langkah selanjutnya adalah memilih secara acak slip satu persatu sehingga mencapai jumlah sampel yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Cara ini adalah cara yang mungkin dilakukan jika jumlah sampel dari populasi yang diinginkan tidak berjumlah besar. Jika sampel yang diinginkan berjumlah besar maka cara ini menjadi kurang efektif dan memerlukan kerja yang alot dalam menulis nama dari tiap-tiap individual dedalam satu slip satu persatu dan tentunya membutuhkan tempat tampungan yang leih besar. Maka cara lain yang disarankan Gay adalah dengan menggunakan tabel angka acak (table of random numbers) seperti ulasan berikut ini.
2). Menggunakan tabel angka acak (table of ramdom numbers)
Langkah-langkah dalam penggunaan tabel angka acak (table of random numbers) yang disarankan oleh Gay adalah sebagai berikut:
1. Menentukan populasi
2. Menentukan jumlah sampel yang diinginkan
3. Mencantumkan semua anggota populasi
4. Menomori tiap-tiap individu dalam populasi. Contoh, 0000-9999
5. Pilih angka tempat memulai perhitungan pada tabel secara acak. Contoh, dengan memejamkan mata dan mengarahkan mata pencil dimana saja pada tabel.
6. Sesuaikan digit angka pada tabel yang terpilih dengan jumlah digit angka pada jumlah populasi. Contoh, jika jumlah populasi adalah 500 orang maka digit angka yang dipakai adalah tiga digit angka terakhir pada angka yang terpilih ditable.
7. Jika angka yang terpilih korespon terhadap jumlah populasi maka angka tersebut diambil sebagai sample. Contoh, jika angka yang terpilih adalah 355 sedangkan jumlah populasi adalah 500 maka angka 355 tersebut dimasukkan ke sampel. Jika angka yang dipilih tidak korespon atau melebihi angka pada populasi, maka angka tersebut tidak dimasukkan kedalam populasi.
8. Pindah ke angka berikutnya pada tabel dan ulangi langkah 7.
9. Ulangi langkah 8 sehingga mencapai jumlah sampel yang diinginkan.
b) Sampling berstrata (stratified random sampling)
Sampling berstrata adalah proses pengambilan sampling dimana dalam satu populasi terdapat kelompok-kelompok subjek dan di antara satu kelompok dengan kelompok yang lain terdapat adanya strata atau tingkatan (Arikunto, 2007 h. 96).
Gay (1996: 107) memberikan beberapa langkah yaitu:
1. Menentukan populasi
2. Menentukan jumlah sampel
3. Menentukan variabel dan subgrup (strata)
4. Mengklasifikasikan semua anggota populasi kedalam salah satu subgrup yang telah ditentukan
5. Menggunakan tabel angka acak (table of random numbers) untuk memliih jumlah (proporsi) anggota pada tiap strata.

c) Sampling kelompok (cluster sampling)
Sampling kelompok (cluster sampling) adalah salah satu teknik sampling acak yang dilakukan dengan memilih kelompok dan bukan individu yang terdapat dalam populasi (Frankle dan Wallen, 2009 h. 97).
Langkah dalam teknik ini adalah:
1. Menentukan populasi
2. Menentukan jumlah sampel
3. Menentukan kelas
4. Masukkan semua kelas dalampopulasi
5. Lakukan estimasi jumlah rata-rata anggota populasi dalam satu kelas (cluster)
6. Lakukan determinasi jumlah kelas yang akan diambil dengan membagikan jumlah sampel dengan jumlah kelas yang sudah diestimasi
7. Pilih kelas (cluster) secara acak dengan menggunakan table angka acak (tabel of random numbers)
8. Masukkan semua anggota populasi dalam setiap kelas yang terpilih
d) Sampling acak dua tingkat (two-stage random sampling)
Sampling acak dua tingkat ini dilakukan dengan menggabungkan sampling kelas acak dan sampling individual acak.Peneliti lebih memilih mengambil sampling kelompok dan memilih individu secara acak dari tiap kelompok yang telah dipilih secara acak.
10. Nonrandom sampling
Nonrandom sampling adalah teknik sampling yang merupakan kebalikan dari random sampling dimana tiap individu dalam satu populasi tidak memiliki peluang yang sama untuk terpilih, bahkan sebagian telah nyata tidak memperoleh peluang. Teknik sampling yang termasuk dalam nonrandom sampling adalah sistematik sampling (systematic sampling), sampling kemudahan (convenience sampling), dan sampling bertujuan (purposive sampling).
Selain teknik sampling di atas, Blaxter dkk (1996) juga menambahkan beberapa teknik sampling lain, yaitu, sampling kuota (quota sampling) dan snowball sampling.
a) Sistematik sampling (systematic sampling)
Sistematik sampling adalah proses pengambilan sampel dari populasi dimana individu individu dipilih berdasarkan urutan ke-n (nth). Gay memberikan langkah-langkah pengambilan sampling ini sebagai berikut:
1. Menentukan populasi
2. Menentukan jumlah sampel yang diinginkan
3. Menggunakan daftar populasi. Contohnya daftar nama populasi berdasarkan urutan abjad.
4. Menentukan rentang n dengan cara membagikan jumah populasi dengan jumlah sampel yang diinginkan
5. Memulai dari tempat acak dari daftar nama awal yang dipilih.
6. Mulai dari angka awal yang terpilih, perhitungan dilanjutkan hingga mencukupi jumlah sampel.
7. Jika perhitungan sudah mencapai akhir sebelum jumlah sampel tercapai, maka perhitungan kembali ke awal.
b) Sampling kemudahan (convenience sampling)
Pada sampling kemudahan (convenience sampling), sampel diambil berdasarkan faktor spontanitas, artinya siapa saja yang secara tidak sengaja bertemu dengan peneliti dan sesuai dengan karakteristiknya, maka orang tersebut dapat dijadikan sampel.
c) Sampling bertujuan (purposive sampling)
Sampling bertujuan adalah teknik penarikan sampel yang dilakukan berdasarkan karakteristik yang ditetapkan terhadap elemen populasi target yang disesuaikan dengan tujuan atau masalah penelitian. Dalam perumusan kriterianya, subjektivitas dan pengalaman peneliti sangat berperan. Penentuan kriteria ini dimungkinkan karena peneliti mempunyai pertimbangan-pertimbangan tertentu didalam pengambilan sampelnya.

d) Sampling kuota (quota sampling)
Sampling kuota (quota sampling) hampir mirip dengan teknik sampling stratifikasi. Bedanya, jika dalam sampling stratifikasi penarikan sampel dari setiap subpopulasi dilakukan dengan acak, maka dalam sampling kuota, ukuran serta sampel pada setiap sub-subpopulasi ditentukan sendiri oleh peneliti sampai jumlah tertentu tanpa acak. Hal ini dilakukan karena kadang-kadang peneliti tidak mengetahui jumlah pasti dari tiap subpopulasi sehingga tidak bisa menentukan proporsi yang akan diambil.
e) Snowball sampling
Snowball Sampling merupakan salah satu bentuk purposive sampling yang sangat tepat digunakan bila populasinya kecil dan spesifik. Cara pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan secara berantai, makin lama sampel menjadi semakin besar. Melalui teknik sampling ini, responden yang relevan di interview, diminta untuk menyebutkan responden lainnya sampai diperoleh sampel sebesar yang diinginkan peneliti, dengan spesialisasi yang sama karena biasanya mereka saling mengenal.
D. Jumlah Sampel
Untuk berapa besar jumlah sampel yang bisa dikatakan representative bagi satu populasi, tidak terdapat ukuran pasti. Layaknya, semakin besar jumlah sampel yang diambil semakin representatif sampel itu terhadap populasi. Dan jika dilihat dari segi keseragaman (homogenitas) populasi, semakin homogen populasi maka akan semakin representatif sampel yang diambil, meskipun hanya sebagian kecil dari populasi. Namun sebaliknya, semakin heterogen suatu populasi semakin tidak representatif sampel yang diambil dan jumlah sampel harus diambil lebih besar lagi.
Frankle dan Wallen (2008: 108) memberikan batas minimum jumlah sampel berdasarkan jenis penelitian. Untuk penelitian deskriptif jumlah sampel adalah 100, untuk penelitian korelasional jumlah sampel adalah 50 dan untuk penelitian experimen dan kausal komparatif adalah 30 pada masing masing grup.
Arikunto (2007: 95) menentukan beberapa rumus yang bisa digunakan untuk menentukan jumlah sampel jika ditinjau dari jumlah populasi. Jika penelitian mempunyai beberapa ratus subjek, maka batas minimumnya adalah 25 – 30%. Dan jika penelitian mempunyai 100 hingga 150 orang, maka sebaiknya subjek diambil keseluruhannya.


DAFTER PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2007. Manajemen Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta
Blaxter, Loraine, dkk, 1996. How to Research. Buckingham: Open University Press
Gay L.R, 1981. Educational Research: Competencies for Analysis and Application. Ohio: Charles E. Merrill Publishing Co
Frankle, R. Jack dan Wallen, E. Norman 2008. How to Design and Evaluate Research in Education. New York: Mc. Graw Hill Publisher Co